“saya sudah capai-capai menerangkan sejelas-jelasnya, tapi tetap saja dia tidak mengerti”. Tiba-tiba saja seorang teman mengatakan hal itu dengan sedikit kekesalan di raut mukanya. Saya hanya bisa diam dan coba merenung, tentang keluhan tadi.
Saya sendiri sering membayangkan bagaimana rasanya menerangkan sesuatu hal yang sebenarnya sepele, tetapi Orang lain penangkapannya akan sangat berbeda. Seperti halnya menerangkan bahwa satu di tambah satu itu sama dengan dua. Persepsi dari tiap individu dengan tingkat kewarasan yang sama dengan kita maka akan membenarkan dengan cepat, bahwa satu di tambah satu memang dua. Tapi akan berbeda dengan persepsi orang lain, di mana tingkat kewarasannya berbeda dengan kita. Pasti akan mengatakan hal itu adalah salah.
Sama seperti ketika kita berusaha untuk berbuat baik, tapi di katakan ” saya tahu sekarang tipu muslihatmu. Sebenarnya kamu ingin menghancurkan saya dengan cara seperti itukan?”. Astagfirullah…niat baik kadang dipandang dengan sebelah mata, seakan manusia jahat tidak akan bisa menjadi baik. Tapi apakah saya sejahat itu? sampai-sampai seorang mengatakan bahwa tindakan-tindakan yang saya perbuat menjadi cara yang terbaik bagaimana suatu rencana balas dendam akan dibuat.
Dan mungkin inilah cara dia memojokkan orang lain, untuk bisa membenarkan pada diri sendiri, bahwa apa yang dilakukan terhadap orang lain adalah benar. Selalu menimpakan kesalahan pada orang lain, untuk menutupi diri sendiri
Diskusi
Belum ada komentar.