I’m come back….
sudah lama sekali saya tidak pernah menulis lagi di sini. Blog yang semula saya angan-angankan bisa menambah kemampuan dalam menuliskan beberapa hal dalam segi apapun. Mulai dari aktifitas kantor, perkuliahan, sampai masalah pengetahuan yang biasanya saya baca, dengar, liat dari sekitar dimana peristiwa itu muncul.
Sekarang blog agak terpinggirkan….mungkin ini hanya perasaan saya saja atau memang fenomena blog sudah bergeser dengan fenomena jejaring sosial yang semakin marak. Situs-situs seperti facebook, twiiter, atau sejenisnya yang dipakai untuk ‘menghabiskan waktu’ dengan memantengi status teman-teman atau kenalan baru yang sedang dan berusaha akan online…setiap saat setiap waktu. Dan saya memang terbawa arus seperti itu….tiap hari buka facebook…liat status..liat comentar dan terkadang sampai melupakan pekerjaan saya yang harus menyelesaikan tugas kuliah atau tugas kantor yang terpaksa di bawa pulang karena kehabisan waktu di siang hari.
Buka laptop…nyalakan modem…dan akhirnya bukan tugas yang dikerjakan, malah mengeomentari dan menulis status di facebook……akh betapa seperti candu saja jejaring sosial itu….buka laptop atau hp …pertama kali yang dituju adalah facebook…Dan sampai kapan fenomena ini akan berganti dengan fenomena yang lain? Dan mungkin sekarang saatnya untuk balik lagi ke blog…menuliskan segala sesuatu yang terjadi dengan pemikiran, perasaan sekitar dan menyebarkan pengetahuan itu ke dalam kehidupan orang lain…..mudah-mudahan berguna semuanya…..
keluhan seorang temen…
Tiba-tiba seseorang mengirim email dengan begitu panjang..sampai-sampai saya bingung membacanya.
Valentine..Apa ya…
Tiba-tiba saya dapat sms isinya :
-Cinta
-Kebahagiaan
-Kasih Sayang
-Persaudaraan
-Persahabatan Tumbuh dr:
.+”"+.+”"+.
+ HATI yg +
“+.Tulus .+”
“+.+”
Happy Valentine.
Bingung saja menerima sms seperti itu, seumur-umur belum pernah merayakan yang namanya Valentine, dari sejarahnya saja : bagiku kabur. Dari referensinya mbah WIKI . Ini hasil yang didapatkan : “Ada beberapa versi mengenai munculnya perayaan hari valentine : pertama adalah dari roma, setiap pertengahan bulan februari di jadikan sebagai hari Lupercia, yakni sebuah perayaan Lupercus, seorang dewa kesuburan, dengan perlambangannya setengah telanjang dan memakai pakaian dari kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum wine, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah. keuda adalah :Hari Raya Gereja. Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia , 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga santo /martir (orang suci) yang berbeda : seorang pastur, seorang uskup Interamna (modern Terni) , seorang martir di provinsi Romawi Africa..
Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Puus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 pebruari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Pebruari.. Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.
Terus pertanyaanya : Kog di rayakan di Indonenesia? Apa hubungannya dengan kita? Apa karena kita cuman latah saja? Atau seperti yang sering orang lain bilang : ” Tidak semua budaya barat itu mesti kita adopsi, yang baik di pakai, yang gak jelas di singkirkan”.
The Doctor..
![]()
Malam-malam, atau tepatnya dini hari. Hp saya bergetar, memperingatkan kalo ada sms yang masuk. Smsnya sangat datar dan sedikit membingungkan. Antara malas dan rasa tidak enak untuk mengabaikannya. “Sudah tidur?” saya jawab aja ” sudah? ada apa?” “Saya habis operasi . Ini operasi yang kelima”. Lah terus apa hubungannya dengan saya, sms dini hari hanya untuk mengatakan bahwa dia barusan operasi. Aku kira ada apa-apa. Biasanya kalo orang sms malam larut atau dini hari, ada sesuatu yang sangat penting. Saya hanya tersenyum saja….” aneh..”. Dan itu kebiasaan yang gak ilang. Sms sepotong-sepotong dan gak nyambung.
Saya jadi teringat pertemuan terakhir dengan si pengirim sms ini sekitar 8 tahun yang lalu, di kota Sebelah. Dia hanya tertawa. Dia ada. Di tempat di mana saya dan dia pernah tinggal satu kos. Berbicara panjang lebar, ngalor dan ngidul tanpa arah dan fokus yang jelas. Mungkin sekedar mengisi waktu saja. Atau mungkin juga sekedar basa-basi. Hari gini masih ada basa-basi….??. Sudah beberapa tahun saya tidak bertemu dengannya, atau bahkan mungkin juga dia juga tidak ingat lagi nama saya. Setelah menyelesaikan studinya di kota Sebelah, dia pergi dan menghilang entah kemana. Terakhir saya dengar dia melaksanakan kewajiban PTT nya di pulau Garam. Habis itu…kabarnya kabur di bawa angin. Maklumlah jaman hanphone masih terbatas pemakainya, bahkan mungkin juga tahun itu tidak sepopuler sekarang, sehingga kadang komunikasi terputus begitu saja. kecuali dia ada telpon rumah atau kantor, baru bisa dihubungi. Untuk surat menyurat, setahu saya dia tidak hobby dengan korespondensi atau bahkan mungkin juga tidak pernah kirim surat? Satu-satunya dia berkunjung ke kantor pos adalah karena ada wesel kiriman orang tua nya …..selain itu. Belajar dan belajar…Aku kadang mikir kog ribet amat kuliahnya. Tiap hari baca diktat kuliah warna hijau daun…sampai setinggi anak umur 5 atahun. Di baca lagi-dibaca lagi…apa gak bosen apa hidup dengan rutinitas seperti itu.
Dini hari masih ada di kantor, sama seperti waktu dulu. Pertama kali masuk kuliah lanjutan, tiap hari kerjanya di kantor, siang kantor, dan hampir tiap hari dilakukannya. Berat amat hidupmu nak…sehari jaga sehari libur. Full selama tahun pertama. Kadang saya merasa tidak tega kalo harus bangunin dia untuk suatu urusan tertentu. Tidurnya yang ngorok dengan kenceng….bikin berisik tetangga-tetangga sebelah. Dan satu yang masih saya ingat hobinya dengerin lagunya penyanyi era 80 an atau bahkan 70 an. Suka sama Chryse, Betharia Sonatha ( Melo banget..neh anak). Dan itu dilakukannya sampai sekarang..kalo di tanya lagi apa > jawabnya kao gak di kantor ya…dengerin Betharia Sonatha, VIna Panduwinata nyanyi……
Selera dan tabiat seseorang memang susah diubah, atau bahkan mungkin juga tidak perlu berubah. Karena dunia ini memang mesti warna-warni. Ada asam, manis, pahit, …Sama seperti statusnya yang sampai sekarang tidak berubah. Dan kami sampai sekarang tetap memanggilnya ..the Doctor.
Maaf..
“Maaf, saya terlalu keterlaluan dan bersikap tidak semestinya…mungkin kamu tersinggung dengan ucapanku..”. Email itu aku terima kemarin dari seorang teman lama. Teman masa SMA sampai kemudian 3 tahun hidup dikota yang sama. ketika kuliah dulu. Dia lulus duluan karena mengambil program Diploma. Lulus…kerja di luar pulau dan akhirnya menikah dengan teman kuliahnya. Sejak itu jarang ada komunikasi antara saya dengan dia..paling-paling hari lebaran ketemu di kampung atau pas ada moment liburan kita ketemu. Praktis dia tidak tahu tentang kehidupan saya dan sayapun sebaliknya tidak tahu pasti perubahan apa yang terjadi padanya. Perubahan bisa pada sikap dan cara pandang terhadap suatu masalah. Tutur kata
dalam mengungkapkan suatu peristiwa dan cara menilai orang lain tentu mengalami perubahan. Dan itulah adanya sekarang….sampai kemudian dia mengirim email permintaan maaf karena merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan ucapannya di milis.
Bagi saya semuanya adalah biasa saja. Perkembangan perilaku orang akan mengalami tahapan berbeda antara satu dengan lainnya tergantung lingkungan yang membentuk dan bagaimana kita memaknai kehidupan dengan segala pernak-perniknya. Mungkin dia berbeda dengan saya yang sudah pernah menghadapi perkataan semacam itu, karena saya pernah mengalami perkataan yang lebih sadis dari apa yang dia katakan. Dia merasa tidak enak sendiri dengan ucapanya. Padahal bagi saya itu hal yang biasa.. makanya dalam balasan email saya hanya mengatakan ” gpp bos..saya cuman tidak mau membawa masalah privacy ke wilayah public…it’s okey. Hanya salah paham..”
Friends bagi saya adalah segalanya setelah keluarga…tidak mungkin saya akan membenci atau menghilangkan dari pikiran pertemenan kecuali dia pergi dan tidak menganggap teman lagi. Saya hanya akan bilang ” it’s your life…dan everything ada pada mu…”
Musibah Kapanpun bisa…
Kemarin saya ditelpon mahasiswa ” assalamualaikum pak, saya mahasiswa KKN Divisi……, mau ngasih tahu pak. Ada anak yang kecelakaan karena mengikuti kegiatan yang kami lakukan…sekarang mondok di Bethesda. …”. AKhirnya perbincangan diakhiri dengan satu janji bahwa saya mau melaporkan kejadian ini ke Koordiantor lapangan dan diteruskan ke atas…dan janji untuk menengok anak tersebut secepatnya.
Dari tempat mantenannya mas Bagus…akhirnya saya putuskan untuk menjenguk anak yang kecelakaan tersebut sama pak Tedy dan his family, karena kebetulan kita sama-sama dari habis ada acara. Sebetulnya mau menjenguk kemarin, tapi lantaran sorenya saya dan pak tedy ada sesuatu yang mesti dikerjakan, akhirnya diputuskan untuk besok saja habis dari mantenannya mas Bagus.
Setelah nanya-nanya sama recepcionis tentang data pasien yang namanya ini.. dengan ciri-ciri dan informasi sesuai dengan yang diberikan mahasiswa ternyata tidak ada data pasien yang namanya ini, adanya pasien dengan nama itu..tapi berdasarkan umur dan tempat tinggalnya sesuai yang saya tahu, akhirnya petugas memberitahukan bahwa pasien tersebut ada di ruang IV.
Masuk ke ruangan yang dimaksud, saya lihat ada anak terbaring lemah dengan perban melilit dikepala dan infus di tangannya. Saya nanya ke seorang ibu dan bapak yang sudah agak sepuh…” maaf…niki yang namanya ini..dari desa itu…”. Kedua orang tua tersebut membenarkan ” nggih leres pak…” dengan mimik raut muka yang kebingungan. Mungkin di pikir ini siapa…kog ada orang asing yang membesuk dia. Akhirnya kami menjelaskan panjang lebar….dan ibu-bapak tersebut baru mengerti dan menjelaskan atas musibah yang di alami putrinya.
Sekali lagi saya berpikir, bahwa musibah itu tidak mengenal waktu, tidak mengenal apakah dia miskin atau kaya, bisa datang dengan tiba-tiba. Saat kita dengan niat baikpun musibah akan datang di saat yang tidak diduga. Apalagi tentunya niat jahat….Siapapun tidak akan pernah bisa menduga…bisa datang dengan sendirinya. Saya hanya bisa menghela nafas..mendengarkan penuturan ibu sepuh tersebut…dan sekali lagi saya merasa malu pada diri sendiri melihat ketabahan mereka. Kenapa saya kurang bersyukur dengan keadaan sekarang? It’s life….dan itu true not fiction.
Go to Baturrraden
Spontanitas. Itulah kata yang tepat bagi wisata kita kali ini…sampai-sampai saya harus menjelaskan dengan pelan-pelan ( maksudnya biar nggak salah paham) dengan ‘my wife’, karena saya tidak memberitahu sebelumnya kalo kita mau piknik ke luar kota. Memberitahukannya pun pas di jalan. “saya mau ke purwokerto sama pak heri”…ndak ada kata-kata piknik atau sejenisnya. Soale saya merasa nggak enak sendiri karena dikomplain sering piknik dan pergi. Ya..karena kita tinggal beda kota dan jauh…terpaksa harus sendiri.
Pakai mobilnya pak Heri…berpiknik ria lagi. Saya cukup duduk manis, jadi navigator atau apa istilahnya. Ouph…kadang malu sendiri…( ya thanks..untuk semuanya yang sudah berbaik hati..). Dari Jogja niatnya cuman satu…refresh dan refresh…..lari dari rutinitas. Dan segala tetek-bengek kesemrawutan ‘hati dan pikiran’. Tiga jam lebih akhrinya nyampe juga di Purwokerto, naik ke arah atas : Baturaden. Kurang lebih 15 kilometer ke arah utara. Letaknya persis di bawah kaki Gunung Slamet. Setahu saya Gunung slamet memang membatasi beberapa kabupaten di Central Java. Di utara ada kabupaten Pemalang, sebelah baratnya ada Tegal dan juga di selatannya ada Purwokerto, kemudian sedikit ke timur ada wilayah Purbalinngga.
Sampai di Purwokerto sudah malam dan hujan mengguyur wilayah tersebut…keliling nyari-nyari tempat pemondokan. Dari hotel kelas 50 ribu sampai kelas 250-an per malam. Rata-rata penuh, kecuali hotel-hotel melati yang ..kayagnya kurang nyaman di tempati, masih ada tertampang tulisan “Ada Kamar”. Akhirnya diputuskan nyari Villa saja, mungkin lebih murah. Dan seseorang bapak-bapak tua menunjukkan Villa yang masih kosong di daerah tersebut. Villanya memang agak tua. dekat sungai kecil yang menuju ke Hutan Wisata dan Pancuran 7, yang kemudian keesokan harinya kita ke sana. Dengan 4 kamar, kita dapat harga 450 ribu, dikurangi satu kamar untuk tiap malamnya. Karena kita memang hanya memerlukan tiga kamar saja. Yach…lumayanlah untuk tempat mengasoh kan badan…setelah capai perjalanan panjang…
Ada juga pertanyaan dalam pikiran ku…Baturaden itu sebenarnya penulisannya : Baturaden atau Baturraden. Kalo menurut pak Heri ( yang pernah tinggal di Purwokerto)….yang bener itu : Baturraden, karena istilah munculnya Baturraden itu dari legenda batur dan raden. Dalam istilah jawa batur itu artinya ‘pembantu’ dan raden itu ‘pangeran’ atau orang yang lebih dihormati yang biasanya muncul dari kalangan ningrat. bener atau ndak itu adalah satu legenda. Seperti di situs liburan di ceritakan di situ tentang legenda batur dan raden tadi. Tapi yang saya lihat sepanjang jalan raya dari baturaden ke arah purwoketo memang ada yang menulis : baturaden dan baturraden, gak tahu yang bener yang mana.
Pagi-pagi bangun…naik ke atas ke arah terminal. Niatnya mencari mendoang, gorengan tempe khas Purwokerto, tapi yang saya temui hanya beberapa ibu-ibu yang menjual gorengan dan nasi pecel seperti biasa saya temui di jogja. Tidak ada kekhasan purwoketo nya. Ternyata mungkin karena terlalu pagi…atau memang di situ jarang yang menjual…i’dont know exactly. Sekitar jam delapanan..kita meluncur ke arah atas. Melewati pintu gerbang masuk wisata. Tiket 3 in One ( tiket terusan), di mana kita bisa masuk ke : Kebun raya nya, pancuran 7, dan telaga sunyi. Masuk ke dalam hutan-hutan tropis yang berisi pohon damar, dan beberapa pinus. akhirnya sampai juga di Pancuran 7. Objek wisata yang ada di baturraden dan wujudnya berupa pancuran-pancuran yang jumlahnya ada 7, dengan air panas yang langsung dari perut bumi. Mengalir ke bawah lewat celah-celah pancuran, turun ke bawah….puanas.

Jalan Sunyi…
Hanya diam yang bisa kulakukan. Pikiranku menembus batas antara rasa percaya dan tidak percaya bahwa dia telah pergi. Kehidupannya sudah berakhir dan pergi menjauh dari hiruk-pikuknya dunia yang sedang kita pijaki bersama.
Aku hanya terdiam ketika mendengar ” Adik sudah tidak ada….” . Ketabahannya aku liat begitu tegar. Memberitahuku bahwa kehidupannya sudah berakhir. Padahal aku ingat persis bahwa kemarin melihatnya berbaring lemah setelah koma seharian. Dan ternyata begitu cepatnya waktu berlalu dan ternyata sekarang dia sudah tidak ada lagi…..
Kadang-kadang kita merasakan perubahan yang drastis, dari perasaan ramai menjadi perasaan sangat sunyi. Seperti kabut tipis yang sumir batasnya. Hari ini, bahkan mungkin dalam waktu satu menit yang lalu kita merasa sangat bahagia, tapi sedetik kemudian perasaan sedih itu menghampiri. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Dan itulah kehidupan….berjalan terus.
Selamat jalan….Allah SWT selalu menyertaimu dan do’a dari sahabat, kerabat menyertai perjalanan panjangmu….
Sahabat kah dia?
Pertanyaan yang sering muncul dan saya sendiri ndak tahu kalo ditanya :
“Kamu punya sahabat? atau punya teman yang bisa dihubungi sewaktu ada sesuatu yang urgent?” jawabanya ngambang saja. Antara ya dan tidak. Karena sebagai teman, mungkin banyak. Tapi kalo sahabat mungkin cuma satu dua, itupun disertai keraguan. Apakah memang dia sahabat saya, sesuai dengan apa yang sering orang bilang, apa itu definisi seorang sahabat.
Kriteria-kriteria atau patokan seperti yang sering dijadikan patokan atau ukuran apakah memang dia sahabat sejati atau bukan, kayagnya ‘kabur’ untuk teman-teman tertentu :
“Siapakah yang berada di sisi kita pada saat terpuruk?
Siapakah yang memberikan motivasi dan tempat berkeluh kesah pada saat kita mengalami banyak tekanan?
Siapakah yang pertama kali menelpon kita pada saat kita lama tidak ada kabarnya?
Siapakah pertama kali yang mengulurkan tangan ketika kita tidak mampu lagi untuk meraih sesuatu yang diharapkan?
Siapakah yang menyayangi dan meyakinkan kita pada saat mereka semua pergi meninggalkan kita?
Siapakah yang membela kita pada saat kita difitnah, dituduh yang bukan kelakuan kita di depan orang lain?
Siapakah yang mau menemani kita pada saat tidak ada seorangpun yang mau mendekat?”
Grand Canyon : Cijulang

- naik perahu
Gand Canyon nama yang rasanya asing bagi orang indonesia. Pertama kali mengira bahwa itu adalah daerah pegunungan di daratan Amerika sana. Tapi kalo kita sudah pernah ke Grand Canyon yang ada di Cijulang, pasti kita akan tahu bedanya dengan yang di Amerika sana.
Saat kita pergi menghabiskan liburan kemarin, selain ke Pangadaran Beach, tidak lupa juga mampir di Grand Canyon. Letaknya tidak jauh dari Pangandaran, sekitar 25 menitan dari Pantai Pangandaran barat, tempat kita menyewa penginapan. Hari pertama kita ke sana, kebetulan sudah siang dan pas hari libur nasional, jadi antrenya lumayan panjang. Sekitar 75 nomer antrian, wah kalo di tunggu bakalan lama, soalnya setipa kali kita naik perahu ke lokasi, dari tempat sandar, satu perahu membutuhkan waktu 20 menit untuk ke lokasi, kemudian sampai sandar lagi waktunya sama. jadi bisa dibayangkan mesti nunggu berapa lama, agar bisa dimuat.
Hari pertama gagal, akhirnya karena tekadnya : “Pokoke harus ke Grand Canyon” seperti yang bu win bilang, makanya kita akan berusaha untuk mendapatkan akses masuk ke sana besok pagi. Caranya tentu dengan datang lebih awal. Benar juga, keesokan harinya kita berangkat. Dan sampai di sana masih jam 7 an pagi, jadi hanya beberapa rombongan saja yang sudah stay di sana. Giliran menyeberangpun tiba. Satu perahu maskimal di isi 5 penumpang, dengan masing-masing penumpang membayar ongkos sebesar 25 ribu perak. Kita bisa duduk-duduk di atas papan, yang ada diatas perahu, atau sambil menjuntaikan kaki ke dalam air sungai yang warnanya jernih kehijauan. Sayangnya waktu itu bukan musim kemarau, jadi agak keruh sedikit. Biasanya kalo tidak musim hujan, airnya sangat jernih sehingga kita bisa melihat ke dasar sungai. Perjalanan memakan waktu sekitar 20 – 25 menit, mungkin tergantung keadaan
air dan juga tentunya kecepatan perahu yang kita tumpangi. Dengan pemandangan bebatuan terjal dan rimbunan daun-daun disekitar sungai, rasanya sangat mengsyikkan.

-
Arsip
- Oktober 2009 (1)
- Februari 2009 (8)
- Januari 2009 (7)
- November 2008 (2)
- Oktober 2008 (1)
- Agustus 2008 (10)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
